
**S**an Francisco terkenal dengan seni pertunjukannya, tak heran jika acara yang diadakan oleh **๐๐ฒ๐ป๐๐น๐ฒ ๐๐ผ๐๐๐ฒ** hari ini jua dilaksanakan di kota yang sama. Bertempat di salah satu hall sekolah San Francisco Art Institute, riuh ramai para tamu undangan terlihat penuhi presensi.

โ๐๐๐จ๐ฉ ๐๐ค๐ช๐ฅ๐ก๐ ๐๐ค๐ง ๐๐๐จ๐๐๐ค๐ฃ ๐๐๐ง๐๐๐, ๐ผ๐ง๐๐๐ฃ ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ค๐ช'๐ง๐ ๐ช๐ฅ ๐ฃ๐ค๐ฌ!โ
Berkesempatan terpilih untuk menjadi pasangan terakhir yang melenggang di acara ๐๐ฒ ๐๐จ๐ฉ๐ก๐จ๐ฆ๐จ๐ซ๐ ๐๐๐๐ซ, tema serupa ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฎ ๐ฏ๐ช๐จ๐ฉ๐ต yang dikemas dalam pagelaran ๐ง๐ข๐ด๐ฉ๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ธ, Udara dan Ardanโrekan modelnya berusaha โtuk hadirkan cerita tersebut lewat penampilan mereka.
Sang dara melirik sejenak ke arah Ardan, memastikan kesiapan keduanya sebelum tungkainya mulai melangkah. Sesuai kesepakatan, si gadis berjalan keluar terlebih dahulu dari sisi sebelah kiri.

Setiap orang tentu mendambakan kisah cinta yang sempurna. Hal ini berdasar dengan konsep yang digaungkan, ๐๐ก๐ ๐๐จ๐๐๐ซ๐ง ๐๐จ๐ฏ๐โdimana bukan lagi sekedar hubungan cinta klasik, namun masuki era futuristik.
Seolah pemeran wanita dalam cerita utama, atensi para tamu undangan seluruhnya pada Udara.

Di tengah lintasan panggung, dirinya berhenti. Gerak dramatisasi dengan pandangan menunduk serta satu kuasa kiri menyentuh pundak kanannya. Sementara itu kaki kanannya dibawa sedikit ke depan, beri gestur mematung untuk menggambarkan bahwasanya cinta melibatkan keterhubungan satu pihak dengan pihak yang lain. Ia tak bisa berjalan sendirian dan perlu Ardan untuk menemani langkahnya menuju ke depan.
Seusai Dara berhasil menempati posisinya tepat di tengah panggung, maka kini gilirannya tiba untuk beraksi dimana kedua tungkai kembarnya mulai melangkah memasuki area panggung dari pintu sebelah kiri.
Layaknya presensi dari pemeran utama pria yang selalu dielu-elukan, kehadirannya pun langsung diiringi oleh sambutan ramai dari para penonton. Sambil bersikap acuh, Ardan berusaha fokus menatap lurus ke depan tentu dengan ekspresi yang tenang namun terpancar kekuatan tersendiri dari pancaran dwinetranya.

Hingga raganya berhenti tepat di belakang sang puan yang masih bertahan dengan gestur *freezing-*nya seolah mengisyaratkan petunjuk tersendiri bagi sang wira.